Selasa, September 11, 2007

Dunia Farmasi, kemana?


Bulan juli dan agustus ini adalah bulan yang berat bagi farmasist baru. atau malah akan berlanjut 2-3 bulan kedepan. fenomena job-seeker dengan segala pernak perniknya meninggalkan ruang perasaan berbeda-beda tiap individu. Ada yang hiperphobia, sehingga sampe pusing mondar-mandir kampus-rumah-kampus (walaupun ndak kuliah lagi). Kemandirian yang di ajarkan para dosen entah pergi kemana. pertanyaanya kenapa hal ini terjadi? jangan menyalahkan nasib karena kita selalu diajari untuk menjemput nasib baik. Apakah Pharmacist kita tidak siap pakai? atau masalah Loker?

Industri Farmasi.....
Sekarang ini ada sekitar 244 industri farmasi di Indonesia, 201 industri lokal dan 33 industri multinasional. Produk obat yang mereka hasilkan 1300 item obat. dan ternyata dari seluruh total penjualan obat di indonesia hampir didominasi sepuluh industri terbesar indonesia yaitu : sanbe farma, kalbe farma, dexa medika, tempo scan, bintang 7, pfizer, kimia farma, konimex, indopharma dan phapros. Menurut majalah SWA sepuluh inilah raksasa penguasa obat indonesia yang memiliki Rp 20,867,77 Miliar uang obat yang muter di negeri ini. Dengan adanya kebijakan Mapping industri farmasi dimana yang kelas C dan D bila tidak bisa dibina akan dibinasakan, maka iklim kompetisi di Industri akan memanas. Moga aja dengan target GP farmasi bahwa 2010 industri yang memenuhi GLP akan meningkat akan mengangkat jumlah Loker yang akan diisi para fresh graduate, namun dalam jangka pendek keliatanya kurang menguntungkan karena Industri akan memilih meng'aman'kan perusahaan dulu dengan menggunakan orang-orang yang lebih berpengalaman, dan emang begitu fenomenanya sekarang, keliatanya.

Rabu, Agustus 15, 2007

Nasehat dari Teman..


Dakwah kampus memberikan banyak romansa. Nuansa dakwah yang terbangun begitu banyak memberikan kenangan. Suansana ruhiyah yang kental, sulit dicari gantinya. Namun setelah toga disandang, bagaimana kelanjutannya?
Ilustrasi
Sebut saja Amin. Dengan modal IP tinggi dan pengalaman dalam berbagai proyek dosen ía tidak sulit mencari kerja. Posisi strategis di kantor mampu diembannya. Dan kini hari-harinya dipenuhi dengan kerja, kerja dan kerja. Secara finansial, masa depannya cukup terjamin.
Namun ada kegelisahan dalam dirinya. Ia rindu dengan aktifitas dakwah seperti pernah dialaminya dulu. Terbesit rasa iri dengan para aktivis dakwah yang diberi kemudahan dan penuh semangat dalam berbagai aktifitas. Dan ia rasakan kini perubahan dalam dirinya. Idealisme yang dulu kuat digenggamnya saat di kampus mulai pudar. Kini tak lagi ia bertanya lagi dalam diri, dari mana uang yang ia bawa pulang. Kini sulit rasanya mencari waktu untuk sekedar sejenak membaca al-Qur’an. Karena begitu sibuk dirinya mengejar karir dan kewajiban profesinya.
Dan makin hari tarikan dunia begitu kuat menjerat. Alih-lih menjaga hamasah (semangat) dakwah, halaqah rutin sudah tidak lagi dihampirinya. Berujung saat kemudian ia meminang seorang gadis. Gadis cantik anak seorang berada, namun jilbab belumlah menutup auratnya.
Menapaki alam nyata
Dunia luar adalah dunia yang nyata. Segala sisi manusia tergambar disana. Sisi religius dan kekafiran, santun dan sadis, kelicikan dan kepandiran, kebijaksanaan dan kebodohan. Semua bercampur menjadi satu. Begitu heterogen, begitu penuh warna. ltulah sesungguhnya dunia yang harus dihadapi segenap manusia.
Selepas kampus, itulah dunia yang harus ditapaki selama berpuluh tahun kehidupan. Dunia keras dan kejam. Rekan-rekan seperjuangan sulit ditemukan. Jangan banyak berharap akan dukungan barisan gagah para mujahid dakwah. Bahkan mungkin, dalam suatu lingkungan kerja hanya ditentukan satu orang saja yang beragama Islam.
Dalam menghadapi kondisi sedemikian maka immunitas diri menjadi suatu kebutuhan mutlak. Tanpanya, seretan gelombang arus materi yang jauh dari nilai ilahiyah akan meruntuhkan segala fitrah insaniyah manusia. Immunitas ini tidak ditumbuhkan dengan sendirinya. Namun merupakan hasil dari proses perjalanan ruhani. Karena immunitas merupakan buah dari iman dan kesabaran. Dan keduanya harus dibangun sedini mungkin. Berangkat dari sini maka kebutuhan akan tarbiyah dzatiyah (pembinaan mandiri) mutlak dilakukan. Bila selama ini menjaga ruhiyah dengan mudah dilakukan karena komunitas Islami di kampus kuat membentengi. Namun diluar sana, komunitas-komunitas Islami ini sulit ditemukan. Maka apa lagi yang bisa diandalkan untuk menyelamatkan diri dari badai materialisme kecuali keteguhan diri?
Sekali lagi, tarbiyah dzatiyyah menjadi keniscayaan untuk dibangun setiap insan yang nengharapkan keselamatan. Bukan jamannya lagi aktivis dakwah menjadi pribadi manja. Hatinya hanya hidup saat dirinya berada dalam habitat Islaminya. Bila sesaat saja keluar dari lingkungan Islami, datanglah malapetaka bagi keimanannya.
Bukankah seharusnya setiap aktivis dakwah layaknya ikan di lautan? Dirinya tetap tawar walaupun hidup di air asin. Hal ini bisa terjadi bila ikan itu hidup. Selama hidup, bertahun lamanya dagingnya tetap tawar. Tapi saat ikan itu mati, satu jam saja dalam seember air garam, maka ia akan menjadi ikan asin.
Begitulah keimanan dalam hati. Bila hati itu hidup, dimana saja ja berada maka keimanannya akan tetap terjaga. Bukan keimanan komunal, hanya hidup di habitatnya yang kondusif saja.
Lalu bagaimana menjaga agar hati itu tetap hidup?
Menjaga diri dari arus badai jahiliyyah dalam kehidupan nyata?
Beberapa kiat berikut insya Allah dapat menjadi jawabannya:
- Menjalankan Amal Sunnah.
Amalan sunnah seringan apapun, namun bila rutin dilakukan akan menjaga keimanan. Dengannya, ridho Allah akan mengalir. Dengannya, per kehidupan Rasulullah serasa dekat. Dengannya, akan senantiasa mendekarkan diri pada interaksi Ilahiyyah.
Amalan sunnah bisa dalam bentuk apa saja. Dan membaca matsurat selepas shubuh. Atau membaca beberapa lembar al-Qur’an di kala istirahat siang. Atau berusaha selalu shalat berjamaah di mushola kantor. Hingga qiyamullail setidaknya satu kali sepekan.
- Tidak Berlebihan dalam Hal Mubah
Hal mubah memang bukanlah suatu amalan yang berdosa. Ambil contoh seperti makan, minum, bercanda atau mendengarkan musik Islami. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan maka akan membawa kepada pelalaian terhadap kewajiban yang lebih penting. Atau terjerumus ke dalam suatu gaya hidup yang melalaikan.
- Rajin Mengikuti Halaqah Ruhiyyah
Halaqah ruhiyah adalah habitat asli keimanan. Di dalamnya iman dalam hati akan mendapati makanannya yang terbaik. Majelis-majelis yang dipenuhi ayat-ayat Allah akan mampu mendongkrak keimanan, separah apapun ia terkapar, insya Allah.
Maka sesibuk apapun, jangan sekali-kali meninggalkan halaqah. Karena selemah apapun kondisi halaqah, akan lebih haik dibanding lingkungan apapun di luar sana. Laksana baterai, halaqah akan men-charge hati dan semangat berIslam. Dan masing-masing anggota halaqah dapat bersama mencari solusi dari qadharya (permasalahan) hidupnya.
- Berusaha Membuat Suasana Islam di Lingkungan Kerja
Baiklah, mungkin memang hati hanya dapat hidup dalam habitat yang kondusif saja. Jika demikian, maka buatlah habitat-habitat kondusif itu, dimanapun kita berada. Karena hidupnya hati dan iman merupakan kebutuhan asasi yang tidak tergantikan oleh apapun.
Dan bukankah pernah ada sebuah janji terbersit dalam nurani:
Nahnu duat qabla kulli syayin. Kami adalah da’i sebelum menjadi apa saja. Maka disinilah saatnya janji itu menemukan tuntutannya!
- Menahan Diri dari Dosa Kecil, Apalagi Besar
Dosa, apapun bentuknya, layaknya dipandang sebagai gunung besar yang menimpa punggung. Bukan sebagai lalat yang dapat ditepis begitu saja. Karena apapun dosa laksana pasir bila dibiarkan lama-kelamaan akan menjadi gunung.
Dan para sahahat Rasulullah yang mulia selalu memandang berat setiap dosanya. Bahkan Umar bin Khattab ra. Membiarkan dirinya pingsan saat teringat akan dosanya di masa lalu.
- Menikah dengan Pasangan Yang Kuat Keimanannya
Terakhir, bila mampu maka menikahlah. Namun seperti pesan Rasulullah, menikahlah karena landasan agama. Bukan wajah, harta atau keturunan. Karena dengannya akan ditemui kebahagiaan hakiki dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Pasangan yang shalih/shalihah akan menjadi penyejuk setiap masalah di liar. Ia akan menjadi penyubur hati. Pengingat saat lalai dan penyemangat saat lesu. Dan RasululIah mendoakan pasangan Mukmin. Saat suami lesu dalam qiyamullail maka sang istri memercikkan air di wajah suaminya. Begitupun sebaliknya. Semoga barakah Allah selalu mengiringi setiap pasangan yang berlandas iman dan taqwa.
Sekali lagi, aktivis dakwah sejati bukankah pribadi manja. Seperti seorang Saad bin Waqqash yang rela berjalan ribuan mil. Meninggalkan saudara seiman dan komunitas Islam yang begitu kuat. Meninggalkan Haraman, dimana satu rakaat saja shalat di dalamnya, berlipat ribuan kali pahalanya. Meninggalkan gemilang harta ghimmah (rampasan perang) Persia pasca perang Qadisiyyah yang dipimpinnya. Pergi berdakwah ke negeri Cina. Menemui kaisar, mengIslamkan para panglima dan saudagar. Hingga dibangunkan untuknya masjid di pusat kerajaan di Kota Terlarang. Hingga beliau wafat dan dimakamkan disana.
Dimana Saad-Saad baru? Dimana jiwa-jiwa sekeras baja? Dimana hati-hati seteguh karang? ....

Tantangan Dunia Farmasi. repost


Keadaan industri farmasi di tengah pasar obat di Indonesia merupakan suatu ironi. Di satu pihak jumlah industri farmasi nasional mempunyai angka yang besar, yaitu 224 industri farmasi yang menghasilkan kapasitas produksi sebesar 3% dari total kapasitas seluruh dunia. Dilain pihak, pasar farmasi Indonesia hanya 0,2% dari total pasar seluruh dunia. Sebagai contoh pada tahun 1997 pasar farmasi dunia bernilai US dollar 297 milyar dengan pertumbuhan 7,1% dan disuplai oleh 7.000 perusahaan farmasi. Pasar lokal Indonesia yang disuplai oleh 224 perusahaan hanya mencapai penjualan senilai US dollar 1.2 milyar. Gambaran ini menunjukkan tidak efisiennya pabrik farmasi di Indonesia.
Konsumsi obat perkapita di Indonesia memang sangat rendah, bahkan termasuk yang paling rendah di Asia. Data WHO tahun 1996 menunjukkan angka USD 5, jauh di bawah Malaysia yang USD 12 atau Singapura yang USD 42. Selain itu menguatnya nilai dollar telah menyebabkan harga obat melonjak drastis sekaligus menurunkan daya beli masyarakat. Akibatnya bagi masyarakat, obat semakin sulit dijangkau, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat kesehatan masyarakat, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Akibat yang lain, semakin terpuruknya industri farmasi Indonesia, dalam hal profitabilitas, dan likuiditas serta semakin membengkaknya idle capacity yang tersedia.
Pengembangan industri farmasi Indonesia perlu dikaji, terutama dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dan mengurangi ketergantungan impor. Pemilihan jenis bahan bahan baku obat yang akan dikembangkan perlu dilakukan dengan seksama, apakah lebih memilih obat baru atau obat-obat yang perlindungan patennya sudah kadaluwarsa atau hampir kadaluwarsa. Sebisa mungkin langkah-langkah pengembangan obat perlu diperpendek untuk mengejar ketinggalan Indonesia dalam pengembangan bahan baku obat tersebut. Penekanan pendekatan penemuan obat pun perlu dikaji dengan seksama, apakah dari bahan alam, pengembangan bahan obat yang sudah ada, dengan sintesa kimia dan model hewan percobaan atau dengan pendekatan modern desain obat.
Analisa SWOT Industri Farmasi Indonesia
Kekuatan
1. Secara teknis farmasi mutu dan teknologi obat-obatan produksi Indonesia sangat baik. Ini terkait dengan telah tingginya standard Good Manufacturing Practice yang diterapkan di Indonesia.
2. Proses produksi masih banyak menerapkan sistem labour intensive dengan biaya buruh yang relatif rendah.
3. Jumlah industri yang banyak dan heterogen membuat semua segmen pasar dapat dipenuhi kebutuhannya sesuai kemampuan masing-masing.

Kelemahan

1. Komponen impor dari obat masih sangat tinggi, yaitu sebesar 90% dari bahan baku yang digunakan (bahan aktif dan bahan pembantu) serta sekitar 50% dari bahan pengemas yang digunakan.
2. Bahan aktif yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri jumlahnya tidak berarti dan belum bisa diperoleh dengan harga yang bersaing dibandingkan dengan sumber dari luar negeri. Upaya-upasya untuk meningkatkan self sufficiency di bidang pengadaan bahan baku sering terbentur pada permasalahan :
· Banyaknya jenis bahan baku yang digunakan oleh industri farmasi (hingga 6.000 items) sehingga banyak pemakaian per item yang tidak memenuhi skala produksi ekonomis.
· Masalah utama adalah pengadaan bahan baku untuk bahan dasar produksi local bahan baku yang terkait dengan :
i. Kurang berkembangnya industri kimia hulu yang bisa menopang pengadaan intermediates untuk bahan dasar pembuatan obat. Ketergantungan pada intermediates dari luar negeri hingga tingkat tertentu bisa mengurangi manfaat yang diperoleh dari sintesis lokal.
ii. Kurang adanya koordinasi antara industri terkait misalnya industri petrokimia dan industri farmasi. Sering terjadi industri farmasi mengalami kesulitan karena intermediate-nya tidak bisa dibuat lokal.
Perlu dicatat bahwa dilihat dari sudut pandang lain sebenarnya self sufficiency dapat dicapai apabila nilai ekspor bahan baku sama dengan nilai impornya. Demikian juga Indonesia tidak perlu memproduksi keseluruhan dari 6.000 items di atas asalkan nilai ekspornya sudah mencukupi.
3. Jumlah industri sangat banyak (300 industri) dengan nilai pasar yang relatif kecil sehingga pasar sangat terfragmentasi dengan akibat adanya skala ekonomis yang rendah, karena :
· Rendahnya efisiensi;
· Banyaknya idel capacity
4. Kelamahan pada dasarnya industri farmasi memang merupakan industri yang knowledge intensive dan highly regulated tetapi aspek regulasi industri farmasi di Indonesia dirasa cukup berat yang bersumber dari :
· Policy yang ada dibuat dengan semangat pengawasan dan bukan pengembangan;
· Pelaksanaan yang terasa lamban karena ketidak seimbangan antra jumlah pengawas dari pemerintah dengan pihak swasta yang harus dilayani.
5. Mata rantai lain yang merupakan bagian dari aspek pemasaran dan distribusi hasil produksi industri farmasi masih belum seimbang baik secara kualitatif dan kuantitatif :
· Misalnya ratio dokter perpopulasi di Indonesia sekitar 140 dokter untuk 1 juta penduduk.
· Jumlah apotik (drug store) saat ini berjumlah sekitar 6.000 buah yang terkonstrasi di kota-kota untuk melayani rakyat Indonesia yang lebih dari 200 juta penduduk. Program pharmaceutical care juga belum berjalan dengan baik sehingga mengurangan pemanfaatan obat secara optimal di masyarakat.
· Distributor yang jumlahnya cukup banyak tetapi tidak mempunyai jangkauan yang luas dan network yang efisien sehingga biaya distribusi relatif mahal.
Peluang
1. Besarnya penduduk Indonesia dan masih rendahnya konsumsi obat perkapita menyebabkan pasar potensial yang bisa dikembangkan.
2. Terbukanya peluang ekspor sebagai akibat dari :
  • Globalisasi dan terbukanya pasar;
  • Penurunan nilai rupiah;
  • Pelaksanaan Good Manufacturing Practice yang baik di Indonesia
3. Kecenderungan berkembangnya Sistem Penanganan Kesehatan yang wajar yang dapat menyalurkan tenaga dokter termasuk dokter spesialis yang dibutuhkan.
Ancaman
1. Adanya krisis ekonomi telah membuat daya beli obat rakyat Indonesia menurun sehingga mengancam kelangsungan hidup industri farmasi nasional terutama untuk pasar okal.
2. Sebagai salah satu dampak globalisasi adalah diratifikasinya GATT, termasuk didalamnya TRIPS yang bermuara diberlakukannya Undang-Undang Paten 1997 dan direvisi tahun 2001. Bagi industri farmasi PMDN dan non PMDN tertentu, yang terbiasa mengandalkan pengembangan produk-produknya pada strategi copy cat produk-produk baru yang masih dilindungi paten, hal ini bisa menjadi ancaman. Meskipun seharusnya UU Paten bisa menjadi opportunity yang akan dapat meningkatkan kinerja industri PMDN, namun industri tersebut belum siap terutama dalam dukungan riset mereka.
Legal sistem belum dapat menanggulangi obat palsu secara efektif sehingga harga obat menjadi lebih sulit dikontrol.

Rabu, Agustus 08, 2007

Tujuan Hidup

Ahli psikologi terpecah menjadi tiga kesimpulan ketika membicarakan masalah untuk apa manusia itu hidup atau apa sebenarnya tujuan akhir yang diingini seorang manusia. freud mengatakan keinginan akhir manusia adalah mencari kesenangan. adler mengatatakan keinginan akhir manusia adalah ketika memperoleh kekuasaan sedangkan frankl mengatakan keinginan tertinggi manusia adalah mencari sebuah makna.

Minggu, Agustus 05, 2007

Motivasi Bisnis dari M. Antonio Syafi'i


hard work may not always get to the top but it should get you pretty close
kerja keras terkadang belum mengantarkan pada sukses tetapi yakinlah anda semakin dekat

to succeed you must work very very hard in a smart way.
ternyata work smart aja tidak cukup apalagi hanya hard work saja, maka gabungkanlah keduanya

barang siapa enggan melakukan muraja'ah [evaluasi] dan muhasabah [menghitung kembali] bersiaplah menuai kegagalan demi kegagalan

penelitian menunjukan bahwa mereka yang memiliki sasaran pribadi yang tertulis cenderung lebih berhasil dibanding mereka yang tidak menulisnya.

love tosucced, but the real spiritual and emotional exitement is in doing. sukses bermula dengan kemampuan anda meikmati proses dan perjalanannya. Fisabilillah

human development index suatu bangsa biasanya diukur dari 3 tingkat : pendapatan perkapita, tingkat kesehatan, tingkat pendidikan. dimana tingkatan ummat?

its not my business to think about my self. my business is to think (dzikr) about God. its for God to think about me. memang Allah ingat kita ketika kita mengingat Dia.

Rabu, Agustus 01, 2007

Apoteker..Mau ke mana?!


Rachmat Badawi, S.Farm,.Apt yah lumayan tambah gelar. gelar?! dibalik gelar itu tersembunyai berjuta impian dan harapan. banyak orang menginginkan embel, embel dibelakang namanya.. tambah keren katanya.. sebagian yang lain sangat menafikkan tambahan ini. mereka sangat-sangat tidak suka dengan embel-embel.. pamer, sombong, angkuh, katanya.
tidak dipungkiri setiap jiwa manusia memiliki kecenderungan terhadap sebuah kedudukan. dimata manusia. bagi sebagian orang kesimpulan itu terlalu mengada-ada. kita kuliah, dapat ijazah, dapat gelar, ya lumrah tapi yang terpenting adalah ada apa di balik gelar itu..apakah kosong mlompong, pa emang layak menyandangnya.
ala kulli hal, bagiku yang terpenting adalah seberapa banyak kita telah memberikan apa yang kita punyai baik ilmu, tenaga, pikiran, kucuran keringat kepada orang-orang disekitar kita dan orang-orang yang kita cintai. !!

Selasa, Juli 17, 2007

You can do it !


you can do it! bagi penggemar buku motivasi tentu tidak asing lagi dengan buku karangan Paul hanna dari australia. secara Content buku ini tidak jauh beda dengan buku-buku motivasi yang lain. bagi yang pernah membaca tulisan-tulisan dale carniage motivator eropa buku paul hanna tidak jauh beda. yang membedakan hanya kesan nasionalisme yang kental yang dimilki paul hanna. rasa kecintaanya terhadap australia tergambar dengan jelas dalam tiap contoh-contoh yang ia sampaikan.
you can do it! menyajikan pentingnya kita memiliki kemampuan softskill yang hebat. pengelolaan diri dan pengembangan emosi. wal hasil buku ini sempat menjadi best seller dunia.

Apotek Rakyat, sedikit saja!

Menurut Menkes, Apotek Rakyat bisa didirikan dengan syarat lebih ringan dari apotek biasa. Syaratnya memiliki sarana dan prasarana berupa komoditi, lemari obat, lingkungan yang terjaga kebersihannya. Apotek Rakyat, tidak boleh melakukan peracikan, mengutamakan obat generik, dilarang menjual obat-obatan narkotika dan psikotropika, dilarang menyerahkan obat dalam jumlah besar, serta memiliki apoteker sebagai penanggung jawab dan dapat dibantu oleh asisten apoteker. Selain itu, Apotek rakyat harus mendapat ijin dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat. Untuk mendapat izin, tidak dipungut biaya dan tidak perlu modal kerja. BUMN Farmasi akan menyediakan obat secara konsinyasi, ujar Menkes.
Menurut Menkes, tujuan apotek rakyat adalah untuk : meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang murah dan berkualitas, memudahkan pengawasan obat, memberikan kesempatan bekerja kepada apoteker dan asisten apoteker, menggerakkan sektor ekonomi kerakyatan serta mengubah mind-set (cara berfikir) orang Indonesia agar mempunyai jiwa enterpreneurship/kewirausahaan.
Begitu apotek rakyat diluncurkan, saya mendapat surat banyak sekali. Sekarang saya umumkan bahwa ” tidak ada wajib kerja sarjana bagi apoteker ”. Dulu yang memberikan wajib kerja sarjana bagi apoteker adalah Menteri Kesehatan, sekarang UU wajib kerja sarjana telah dicabut, ujar Dr. Siti Fadilah Supari.
Banyak apoteker yang bekerja sebagai pegawai apotek yang didimiliki pemilik modal, sehingga apoteker hanya menjadi bawahan pemilik modal. Padahal apotek tidak akan jalan, tanpa ada apoteker. Masih lebih baik kalau bekerja di perguruan tinggi, karena derajatnya lebih tinggi, ujar Menkes.
Untuk menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat antara lain dilakukan pengaturan harga obat generik melalui Keputusan Menkes No. 521/Menkes/SK/IV/2007 sebagai revisi Kepmenkes No. 720/Menkes/SK/IX/2006. Revisi ini sebagai bukti bahwa Depkes tetap mempertimbangkan kondisi dunia usaha walau keterjangkauan rakyat terhadap obat adalah hal yang utama, kata Dr. Siti Fadilah Supari.
Menkes mengakui bahwa keterjangkauan terhadap harga obat adalah relatif, karena itu Depkes melaksanakan program Askeskin yakni program asuransi untuk rakyat miskin yang saat ini mencakup lebih dari70 juta jiwa dengan premi asuransi dibayarkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat miskin pun terjamin aksesnya terhadap obat yang dibutuhkan.
Selain itu, untuk membantu masyarakat dalam rangka melakukan pengobatan sendiri (self medication) untuk keluhan-keluhan umum, telah diluncurkan Obat Rakyat Murah dan Berkualitas. Obat ini harganya Rp 1.000,- per strip-nya berisi 2-8 tablet, yang dapat dibeli di apotek, toko obat maupun warung-warung. Saat ini sudah tersedia 12 jenis obat ini, ujar Menkes

gue