Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, Februari 13, 2014

'Ber-Istighfar-lah pada Tuhanmu'

Al-Qurtubi meriwayatkan cerita Ibni Shabih. Pada suatau hari ada seorang lelaki mengadu kepada Hasan al-Basri tentang masa kemarau yang menimpanya. Hasan al-Basri lantas berkata kepadanya:
“Beristighfarlah kepada Allah s.w.t.”

Selanjutnya seorang lelaki lain mengadu akan kemiskinan yang menimpanya. Hasan al-Basri lalu berkata kepadanya:
“Beristighfarlah kepada Allah s.w.t.”

Ada pula lelaki lai berkata : “Doakanlah aku supaya Allah s.w.t memberiku anak.” Hasan al-Basri kemudian berkata kepadanya:
“Beristighfarlah kepada Allah s.w.t.”

Datang lagi lelaki lain yang mengadu tentang kebunnya yang kekeringan. Hasan al-Basri pun berkata kepadanya:
“Beristighfarlah kepada Allah s.w.t.”

Ar-Rabi lantas berkata kepadanya: “Beberapa orang lelaki mendatangimu mengadu pelbagai jenis perkara tetapi kamu menyuruh mereka semua untuk membaca istighfar!”

Hasan al-Basri menjawab: “ Aku sama sekali tidak mengatakan apapun dari diriku sendiri. Sesungguhnya Allah s.w.t berfirman:

Artinya:
“Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Surah Nuh: ayat 10-12)

Ada seorang lelaki berkata kepada Hasan al-Basri : “Apakah seseorang tidak akan berasa malu terhadap Tuhannya? Bukankah dia melakukan perbuatan dosa lalu memohon keampunan kemudian mengulangi perbuatan dosa lagi lalu memohon keampunan dan seterusnya?”

Hasan al-Basri lantas menjawab: “ Syaitan sangat berharap jika dia Berjaya menggoda kamu. Oleh kerana itu, janganlah kamu meninggalkan istighfar selama-lamanya.”

Kamis, Januari 23, 2014

Hasan Al Basri, Imam para Tabi'in

Tarakan. Sholat Jumat hari ini (24/01) begitu terkesan ketika khatib menerangkan kisah tabiin yang paling terkenal dizamannya Hasan Al Basri. Selama ini yang aku tahu Hasan Al Basri adalah ulama besar yang sangat terkenal yang telah dimuliakan Alloh dengan Islam. Kedua orang tua beliau adalah budak. Ayahnya budak Zaid bin Tsabit sang pelulis rasul, ibunya budak milik Ummu Salamah istri Rasulullah. Beliau adalah contoh bagaimana Islam memuliakan manusia hatta dia adalah budak sekalipun. krn pada dasarnya manusia sama disisi Sang Pencipta hanya Ketakwaanlah pembedanya. 
Setiap ulama yang hidup dizaman tabiin sangat menghormati beliau, memuliakan beliau. Penguasa segan dan hormat pada beliau.
setelah sholat jumat aku jadi penasaran ingin membaca kisah-kisah lain dari Hasan Al Basri. salah satunya bisa dibaca di http://kisahmuslim.com/kisah-tabiin-hasan-al-bashri/ 

Hasan al-Bashri

Telah datang berita gembira kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, bahwa budaknya yang bernama Khairah telah melahirkan seorang bayi laki-laki.
Ummul Mukminin hanyut dalam kegembiraan dan wajahnya tampak ceria dan berseri-seri. Dia mengutus seseorang untuk membawa ibu dan bayinya ke rumah selama masa-masa pemulihan pasca melahirkan. Khairah adalah budak yang paling beliau sayangi dan beliau telah rindu menantikan kelahiran bayi pertama dari budaknya itu.
Tak lama setelah itu Khairah pun datang dengan bayi di gendongannya. Ketika Ummu Salamah memandangnya, beliau langsung menyukai bayi itu karena wajahnya yang tampan dan cerah, menarik hati siapapun yang memandangnya.
Ummu Salamah bertanya kepada budaknya: “Sudahkah engkau memberikan nama untuknya wahai Khairah?” Khairah menjawab: “Belum, aku ingin Anda-lah yang memilihkan nama untuknya sesuka Anda.”
Ummu Salamah berkata, “Kita akan memberi nama yang diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Hasan.” Lalu beliau mengangkat tangannya untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.
Kebahagiaan atas kelahiran Hasan itu tidak hanya dirasakan oleh keluarga Ummul Mukminin Ummu Salamah saja. Namun juga dirasakan oleh seisi rumah di Madinah, yaitu di rumah sahabat utama yang juga penulis wahyu Rasulullah, Zaid bin Tsabit. Sebab ayah si bayi, yakni Yasaar, adalah budak Zaid bin Tsabit yang paling disayangi dan diutamakan di antara budak yang lain.
Hasan bin Yassar (yang pada akhirnya lebih terkenal dengan sebutan Hasan al-Bashri) tumbuh di salah satu rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, besar di pangkuan salah satu istri beliau, yaitu Hindun binti Suhail yang lebih sering dipanggil dengan Ummu Salamah.
Adapun Ummu Salamah –kalau pembaca belum tahu- adalah seorang wanita Arab yang termasuk paling sempurna akalnya, banyak keutamaannya, dan teguh pendiriannya. Beliau juga termasuk istri nabi yang paling luas pengetahuannya dan paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. Beliau meriwayatkan sebanyak 387 hadis. Beliau juga termasuk dari sedikit bilangan wanita di masa jahiliyah yang mampu baca-tulis.
Hubungan bayi yang beruntung itu dengan Ummu Salamah tidak hanya sebatas itu. Lebih jauh lagi, karena seringkali ibunda beliau, Khairah, harus keluar dari rumah untuk mengurus kebutuhan Ummul Mukminin sehingga harus meninggalkan bayinya. Bila sang bayi menangis karena lapar, maka Ummul Mukminin meletakkan bayi itu di pangkuannya, lalu disusui supaya diam. Karena rasa cintanya terhadap bayi itu, Ummul Mukminin bisa mengeluarkan air susu yang kemudian diminum oleh si bayi hingga merasakan kenyang dan diam dari tangisnya. Dengan demikian, kedudukan Ummu Salamah bagi Hasan al-Bashri adalah sebagai ibu dalam dua sisi. Pertama karena Hasan al-Bashri adalah seorang dari mukminin sedang Ummu Salamah adalah Ummul Mukminin. Kedua Ummu Salamah adalah ibu susuan bagi beliau.
Anak ini meraih kesempatan emas untuk bergaul dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab rumah-rumah mereka berdekatan sehingga ia bisa bermain dari satu rumah ke rumah yang lain. Sudah barang tentu akhlak beliau terwarnai oleh para penghuni rumah itu dan mendapatkan bimbingan dari mereka.
Seperti yang diceritakan oleh Hasan al-Bashri sendiri, dia mengisi rumah Ummul Mukminin dengan ketangkasannya yang menyenangkan. Sering dia naik ke atap rumah lalu berpindah-pindah dengan lincahnya.
Hasan dibesarkan dalam suasana yang diterangi oleh cahaya nubuwah dan meneguk sumber air jernih (ilmu) yang tersedia di rumah-rumah ummahatul mukminin. Beliau juga berguru kepada sahabat-sahabat utama di Masjid Nabawi. Beliau meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lain-lain.
Meski demikian, kekaguman yang paling menonjol jatuh kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dia mengagumi keteguhan agamanya, ketekunan ibadahnya, kezuhudannya terhadap kesenangan dunia, kefasihan lidahnya, hikmah-hikmahnya yang berkesan di hatinya, kemantapan tutur katanya dan nasihat-nasihatnya yang menggetarkan hati. Sehingga beliau berusaha berakhlak dengannya dalam hal takwa dan ibadah serta mengikuti jejaknya dalam memberikan keterangan dan kefasihan bahasanya.
Menginjak usia 14 tahun, ketika memasuki usia remaja, beliau berpindah bersama kedua orang tuanya ke Bashrah dan menetap di sana. Dari sinilah muncul julukan al-Bashri, yang dinisbahkan pada kota Bashrah. Lalu keutamaan beliau mulai dikenal orang-orang di Bashrah.
Di saat Hasan al-Bashri menjadi imam, kota Bashrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu pengetahuan. Masjidnya yang agung penuh dengan para sahabat dan tabi’in yang hijrah ke sana dan halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam dan coraknya memakmurkan masjid-masjid dan suraunya.
Hasan al-Bashri tinggal di masjid itu dan menekuni halaqah Abdullah bin Abbas, Habru umati Muhammad (Ustadnya umat Muhammad). Dia mengambil pelajaran tafsir, hadis, qiraah, fiqh, adab, bahasa dan sebagainya. Hingga beliau menjadi seorang ulama besar dan fuqaha yang terpercaya.
Maka, umat banyak menggali ilmunya, mendantangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras dan mencucurkan air mata orang-orang yang terlanjur berbuat dosa. Banyak orang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.
Nama Hasan al-Bashri telah menyebar di seluruh daerah dan dikenal di mana-mana.
Para gubernur dan khalifah menanyakan dan mengikuti beritanya.
Khalid bin Shafwan bercerita. “Aku bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di daerah Hirah, beliau berkata, ‘Wahai Khalid, ceritakan kepadaku tentang Hasan al-Bashri, aku rasa engkau lebih mengenalnya dari yang lain.”
Aku berkata, “Semoga Allah menjaga Anda. Saya sebaik-baik orang yang akan memberikan keterangan tentang Hasan al-Bashri wahai Amir, karena saya adalah tetangga sekaligus muridnya yang setia. Saya lebih mengenal beliau daripada orang Bashrah lainnya’.”
Beliau berkata, “Ceritakan apa yang Anda ketahui tentangnya.” Saya berkata, ‘Beliau adalah orang yang hatinya sama dengan lahiriyahnya, perkataannya serasi dengan perbuatannya. Jika menyuruh perkara yang ma’ruf, maka beliau pula yang paling sanggup melakukannya. Jika melarang yang mungkar, beliau pula yang paling mampu meninggalkannya. Saya mendapatinya sebagai orang yang tidak memerlukan pemberian; dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan orang lain. Sebaliknya saya dapati betapa orang-orang memerlukan dan menginginkan apa yang dimilikinya.”
Maslamah berkata, “Cukup wahai Khalid, cukup. Bagaimana kaum itu bisa sesat, bila ada orang semisal dia di tengah-tengah mereka?”
Ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berkuasa di Irak, bertindak sewenang-wenang dan kejam di wilayahnya, Hasan al-Bashri adalah termasuk dalam bilangan sedikit orang yang berani menentang dan mengecam keras akan kezaliman penguasa itu secara terang-terangan.
Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai, diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendoakannya. Hasan al-Bashri tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik di mana banyak orang sedang berkumpul. Dia tampil memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Begitulah, ketika Hasan al-Bashri tiba di tempat itu dan melihat begitu banyak orang-orang mengelilingi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang luas, beliau berdiri untuk berkhutbah. Di antara yang beliau sampaikan adalah: “Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya…”
Beliau terus mengkritik dan mengecam hingga beberapa orang mengkhawatirkan keselamatannya dan memintanya berhenti: “Cukup Wahai Abu Sa’id, cukup.”
Namun Hasan al-Bashri berkata, “Wahai saudaraku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya.”
Keesokan harinya Hajjaj menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya dengan memendam amarah dan berkata keras: “Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorang pun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut!”
Hajjaj memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al-Basri.
Dibawalah Hasan al-Basri, semua mata mengarah kepadanya dan hati mulai berdebar menunggu nasibnya. Begitu Hasan al-Basri melihat algojo dan pedangnya yang terhunus dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca sesuatu. Lalu berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang muslim, dan kehormatan seorang da’i di jalan Allah.
Demi melihat ketegaran yang demikian, mental Hajjaj menjadi ciut. Terpengaruh oleh wibawa Hasan al-Basri, dia berkata ramah: “Silahkan duduk di sini wahai Abu  Sa’id, silahkan..”
Seluruh yang hadir menjadi bengong dan terheran-heran melihat perilaku amirnya yang mempersilahkan Hasan al-Basri duduk di kursinya. Sementara itu, dengan tenang dan penuh waibawa Hasan al-Basri duduk di tempat yang disediakan. Hajjaj menoleh kepadanya lalu menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab Hasan al-Basri dengan jawaban-jawaban yang menarik dan mencerminkan pengetahuannya yang luas.
Merasa cukup dengan pertanyaan yang diajukan, Hajjaj berkata, “Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat.” Dia semprotkan minyak ke jenggot Hasan al-Basri lalu diantarkan sampai di depan pintu.
Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan al-Basri berkata, “Wahai Abu Sa’id sesungguhnya Hajjaj memanggil Anda untuk suatu urusan yang lain. Ketika Anda masuk dan melihat algojo dengan pedangnya yang terhunus, saya lihat Anda membaca sesuatu, apa sebenarnya yang Anda lalukan ketika itu?”
Beliau berkata, (Aku berdoa) “Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”
Kejadian serupa sering dialami Hasan al-Basri berhubungan dengan para wali negeri dan amir, di mana beliau selalu lolos dari setiap kesulitan tanpa menjatuhkan wibawanya di mata para penguasa tersebut dengan lindungan dan pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah wafatnya khalifah yang zuhud Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan beralih ke tangan Yazid bin Abdul Malik. Khalifah baru ini mengangkat Umar bin Hubairah al-Faraqi sebagai gubernur Irak sampai Khurasan. Yazid ditengarai telah berjalan tidak seperti jalannya kaum salaf yang agung. Dia senantiasa mengirim surat kepada walinya, Umar bin Hubairah agar melaksanakan perintah-perintah yang ada kalanya melenceng dari kebenaran.
Untuk memecahkan problem itu, Umar bin Hubairah memanggil para ulama di antaranya asy-Sya’bi dan Hasan al-Basri. Dia berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya. Sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak sampai kupandang tidak adil. Dalam keadaan yang demikian, bisakah kalian memberikan jalan keluar untukku, apakah aku harus menaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama?”
Asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak dan sesuai dengan jalan pikiran pemimpinnya itu, sedangkan Hasan al-Basri tidak berkomentar sehingga Umar menoleh kepadanya dan bertanya, “Wahai Abu Sa’id, bagaimana pendapatmu?”
Beliau berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb Yazid.”
“Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepada-Nya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.”
Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena terkesan mendengarnya. Dia berpaling dari asy-Sya’bi kepada Hasan al-Basri, Umar semakin bertambah hormat dan memuliakannya. Setelah kedua ulama itu keluar dan menuju ke masjid, orang-orang pun datang berkerumun ingin mengetahui berita pertemuan mereka dengan amir Irak tersebut.
Asy-Sya’bi menemui mereka dan berkata; “Wahai kaum barangsiapa mampu mengutamakan Allah atas makhluk-Nya dalam segala keadaan dan masalah, maka lakukanlah. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, semua yang dikatakan Hasan al-Basri kepada Umar bin Hubairah juga aku ketahui. Tapi yang kusampaikan kepadanya adalah untuk wajahnya, sedangkan Hasan al-Basri menyampaikan kata-katanya demi mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka aku disingkirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Ibnu Hubairah, sedangkan Hasan al-Basri didekati dan dicintai…”
Allah memberikan karunia umur kepada Hasan al-Basri hingga berusia lebih dari 80 tahun dan telah memenuhi dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih. Warisan yang diunggulkannya bagi generasi kini di antaranya adalah kehalusan dan nasihat-nasihatnya yang mampu menyegarkan jiwa  dan mampu menyentuh hati, menjadi petunjuk bagi mereka yang lalai akan hakikat kehidupan dunia serta ihwal manusia dalam menyikapi dunia.
Beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang dunia dan keadaannya. Beliau berkata, “Anda bertanya tentang dunia dan akhirat. Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah seperti timur dan barat, bila satu mendekat, maka yang lain akan menjauh.”
Dan Anda memintaku supaya menggambarkan tentang keadaan dunia ini. Maka aku katakan bahwa dunia diawali dengan kesulitan dan diakhiri dengan kebinasaan, yang halal akan dihisab dan yang haram akan berujung siksa. Yang kaya akan menghadapi ujian dan fitnah, sedang yang miskin selalu dalam kesusahan.”
Adapun jawaban terhadap pertanyaan orang lain tentang keadaannya dan keadaan orang lain dalam menyikapi dunia beliau berkata, “Duhai celaka, apa yang telah kita perbuat atas diri kita? Kita telah menelantarkan agama kita dan menggemukkan dunia kita, kita rusak akhlak kita dan kita perbaharui rumah, ranjang serta pakaian kita. Bertumpu pada tangan kiri, lalu memakan harta yang bukan haknya.
Makanannya hasil menipu, amalnya karena terpaksa, ingin yang manis setelah yang asam, ingin yang panas setelah yang dingin, ingin yang basah setelah yang kering, hingga manakala telah penuh perutnya ia berkata, “Wahai anakku, ambill obat pencerna.” Hai orang yang dungu, sesungguhnya yang kau cerna itu adalah agamamu.
Mana tetanggamu yang lapar?
Mana yatim-yatim kaummu yang lapar?
Mana orang miskin yang menantikan uluranmu?
Mana nasihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya?
Kalau saja engkau sadari hisabmu. Tiap kali terbenam matahari, berkuranglah satu hari usiamu dan lenyaplah sebagian yang ada padamu.”
Kamis malam di bulan Rajab 110 H, Hasan al-Basri pergi memenuhi panggilan Rabb-nya. Pagi harinya menjadi pagi duka cita bagi kota Bashrah.
Jenazahnya dimandikan, dikafani dan dishalatkan setelah shalat Jumat di masjid Jami Basrah, masjid tempat di mana beliau menghabiskan banyak waktu hidupnya, belajar dan mengajar serta menyeru ke jalan Allah.
Orang-orang mengiringkan jenazahnya dan hari itu tak ada shalat ashar di Masjid Jami tersebut karena tak ada yang menegakkannya. Dan shalat jamaah ashar tidak pernah absen sejak dibangunnya masjid itu kecuali di hari itu. Hari di mana Hasan al-Basri berpulang ke haribaan Rabb-nya.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

Selasa, Januari 21, 2014

Nasehat dari Teman..

Dakwah kampus memberikan banyak romansa. Nuansa dakwah yang terbangun begitu banyak memberikan kenangan. Suansana ruhiyah yang kental, sulit dicari gantinya. Namun setelah toga disandang, bagaimana kelanjutannya?
Ilustrasi
Sebut saja Amin. Dengan modal IP tinggi dan pengalaman dalam berbagai proyek dosen ía tidak sulit mencari kerja. Posisi strategis di kantor mampu diembannya. Dan kini hari-harinya dipenuhi dengan kerja, kerja dan kerja. Secara finansial, masa depannya cukup terjamin.
Namun ada kegelisahan dalam dirinya. Ia rindu dengan aktifitas dakwah seperti pernah dialaminya dulu. Terbesit rasa iri dengan para aktivis dakwah yang diberi kemudahan dan penuh semangat dalam berbagai aktifitas. Dan ia rasakan kini perubahan dalam dirinya. Idealisme yang dulu kuat digenggamnya saat di kampus mulai pudar. Kini tak lagi ia bertanya lagi dalam diri, dari mana uang yang ia bawa pulang. Kini sulit rasanya mencari waktu untuk sekedar sejenak membaca al-Qur’an. Karena begitu sibuk dirinya mengejar karir dan kewajiban profesinya.
Dan makin hari tarikan dunia begitu kuat menjerat. Alih-lih menjaga hamasah (semangat) dakwah, halaqah rutin sudah tidak lagi dihampirinya. Berujung saat kemudian ia meminang seorang gadis. Gadis cantik anak seorang berada, namun jilbab belumlah menutup auratnya.
Menapaki alam nyata
Dunia luar adalah dunia yang nyata. Segala sisi manusia tergambar disana. Sisi religius dan kekafiran, santun dan sadis, kelicikan dan kepandiran, kebijaksanaan dan kebodohan. Semua bercampur menjadi satu. Begitu heterogen, begitu penuh warna. ltulah sesungguhnya dunia yang harus dihadapi segenap manusia.
Selepas kampus, itulah dunia yang harus ditapaki selama berpuluh tahun kehidupan. Dunia keras dan kejam. Rekan-rekan seperjuangan sulit ditemukan. Jangan banyak berharap akan dukungan barisan gagah para mujahid dakwah. Bahkan mungkin, dalam suatu lingkungan kerja hanya ditentukan satu orang saja yang beragama Islam.
Dalam menghadapi kondisi sedemikian maka immunitas diri menjadi suatu kebutuhan mutlak. Tanpanya, seretan gelombang arus materi yang jauh dari nilai ilahiyah akan meruntuhkan segala fitrah insaniyah manusia. Immunitas ini tidak ditumbuhkan dengan sendirinya. Namun merupakan hasil dari proses perjalanan ruhani. Karena immunitas merupakan buah dari iman dan kesabaran. Dan keduanya harus dibangun sedini mungkin. Berangkat dari sini maka kebutuhan akan tarbiyah dzatiyah (pembinaan mandiri) mutlak dilakukan. Bila selama ini menjaga ruhiyah dengan mudah dilakukan karena komunitas Islami di kampus kuat membentengi. Namun diluar sana, komunitas-komunitas Islami ini sulit ditemukan. Maka apa lagi yang bisa diandalkan untuk menyelamatkan diri dari badai materialisme kecuali keteguhan diri?
Sekali lagi, tarbiyah dzatiyyah menjadi keniscayaan untuk dibangun setiap insan yang nengharapkan keselamatan. Bukan jamannya lagi aktivis dakwah menjadi pribadi manja. Hatinya hanya hidup saat dirinya berada dalam habitat Islaminya. Bila sesaat saja keluar dari lingkungan Islami, datanglah malapetaka bagi keimanannya.
Bukankah seharusnya setiap aktivis dakwah layaknya ikan di lautan? Dirinya tetap tawar walaupun hidup di air asin. Hal ini bisa terjadi bila ikan itu hidup. Selama hidup, bertahun lamanya dagingnya tetap tawar. Tapi saat ikan itu mati, satu jam saja dalam seember air garam, maka ia akan menjadi ikan asin.
Begitulah keimanan dalam hati. Bila hati itu hidup, dimana saja ja berada maka keimanannya akan tetap terjaga. Bukan keimanan komunal, hanya hidup di habitatnya yang kondusif saja.
Lalu bagaimana menjaga agar hati itu tetap hidup?
Menjaga diri dari arus badai jahiliyyah dalam kehidupan nyata?
Beberapa kiat berikut insya Allah dapat menjadi jawabannya:
- Menjalankan Amal Sunnah.
Amalan sunnah seringan apapun, namun bila rutin dilakukan akan menjaga keimanan. Dengannya, ridho Allah akan mengalir. Dengannya, per kehidupan Rasulullah serasa dekat. Dengannya, akan senantiasa mendekarkan diri pada interaksi Ilahiyyah.
Amalan sunnah bisa dalam bentuk apa saja. Dan membaca matsurat selepas shubuh. Atau membaca beberapa lembar al-Qur’an di kala istirahat siang. Atau berusaha selalu shalat berjamaah di mushola kantor. Hingga qiyamullail setidaknya satu kali sepekan.
- Tidak Berlebihan dalam Hal Mubah
Hal mubah memang bukanlah suatu amalan yang berdosa. Ambil contoh seperti makan, minum, bercanda atau mendengarkan musik Islami. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan maka akan membawa kepada pelalaian terhadap kewajiban yang lebih penting. Atau terjerumus ke dalam suatu gaya hidup yang melalaikan.
- Rajin Mengikuti Halaqah Ruhiyyah
Halaqah ruhiyah adalah habitat asli keimanan. Di dalamnya iman dalam hati akan mendapati makanannya yang terbaik. Majelis-majelis yang dipenuhi ayat-ayat Allah akan mampu mendongkrak keimanan, separah apapun ia terkapar, insya Allah.
Maka sesibuk apapun, jangan sekali-kali meninggalkan halaqah. Karena selemah apapun kondisi halaqah, akan lebih haik dibanding lingkungan apapun di luar sana. Laksana baterai, halaqah akan men-charge hati dan semangat berIslam. Dan masing-masing anggota halaqah dapat bersama mencari solusi dari qadharya (permasalahan) hidupnya.
- Berusaha Membuat Suasana Islam di Lingkungan Kerja
Baiklah, mungkin memang hati hanya dapat hidup dalam habitat yang kondusif saja. Jika demikian, maka buatlah habitat-habitat kondusif itu, dimanapun kita berada. Karena hidupnya hati dan iman merupakan kebutuhan asasi yang tidak tergantikan oleh apapun.
Dan bukankah pernah ada sebuah janji terbersit dalam nurani:
Nahnu duat qabla kulli syayin. Kami adalah da’i sebelum menjadi apa saja. Maka disinilah saatnya janji itu menemukan tuntutannya!
- Menahan Diri dari Dosa Kecil, Apalagi Besar
Dosa, apapun bentuknya, layaknya dipandang sebagai gunung besar yang menimpa punggung. Bukan sebagai lalat yang dapat ditepis begitu saja. Karena apapun dosa laksana pasir bila dibiarkan lama-kelamaan akan menjadi gunung.
Dan para sahahat Rasulullah yang mulia selalu memandang berat setiap dosanya. Bahkan Umar bin Khattab ra. Membiarkan dirinya pingsan saat teringat akan dosanya di masa lalu.
- Menikah dengan Pasangan Yang Kuat Keimanannya
Terakhir, bila mampu maka menikahlah. Namun seperti pesan Rasulullah, menikahlah karena landasan agama. Bukan wajah, harta atau keturunan. Karena dengannya akan ditemui kebahagiaan hakiki dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Pasangan yang shalih/shalihah akan menjadi penyejuk setiap masalah di liar. Ia akan menjadi penyubur hati. Pengingat saat lalai dan penyemangat saat lesu. Dan RasululIah mendoakan pasangan Mukmin. Saat suami lesu dalam qiyamullail maka sang istri memercikkan air di wajah suaminya. Begitupun sebaliknya. Semoga barakah Allah selalu mengiringi setiap pasangan yang berlandas iman dan taqwa.
Sekali lagi, aktivis dakwah sejati bukankah pribadi manja. Seperti seorang Saad bin Waqqash yang rela berjalan ribuan mil. Meninggalkan saudara seiman dan komunitas Islam yang begitu kuat. Meninggalkan Haraman, dimana satu rakaat saja shalat di dalamnya, berlipat ribuan kali pahalanya. Meninggalkan gemilang harta ghimmah (rampasan perang) Persia pasca perang Qadisiyyah yang dipimpinnya. Pergi berdakwah ke negeri Cina. Menemui kaisar, mengIslamkan para panglima dan saudagar. Hingga dibangunkan untuknya masjid di pusat kerajaan di Kota Terlarang. Hingga beliau wafat dan dimakamkan disana.
Dimana Saad-Saad baru? Dimana jiwa-jiwa sekeras baja? Dimana hati-hati seteguh karang? ....

Rabu, Agustus 15, 2007

Nasehat dari Teman..


Dakwah kampus memberikan banyak romansa. Nuansa dakwah yang terbangun begitu banyak memberikan kenangan. Suansana ruhiyah yang kental, sulit dicari gantinya. Namun setelah toga disandang, bagaimana kelanjutannya?
Ilustrasi
Sebut saja Amin. Dengan modal IP tinggi dan pengalaman dalam berbagai proyek dosen ía tidak sulit mencari kerja. Posisi strategis di kantor mampu diembannya. Dan kini hari-harinya dipenuhi dengan kerja, kerja dan kerja. Secara finansial, masa depannya cukup terjamin.
Namun ada kegelisahan dalam dirinya. Ia rindu dengan aktifitas dakwah seperti pernah dialaminya dulu. Terbesit rasa iri dengan para aktivis dakwah yang diberi kemudahan dan penuh semangat dalam berbagai aktifitas. Dan ia rasakan kini perubahan dalam dirinya. Idealisme yang dulu kuat digenggamnya saat di kampus mulai pudar. Kini tak lagi ia bertanya lagi dalam diri, dari mana uang yang ia bawa pulang. Kini sulit rasanya mencari waktu untuk sekedar sejenak membaca al-Qur’an. Karena begitu sibuk dirinya mengejar karir dan kewajiban profesinya.
Dan makin hari tarikan dunia begitu kuat menjerat. Alih-lih menjaga hamasah (semangat) dakwah, halaqah rutin sudah tidak lagi dihampirinya. Berujung saat kemudian ia meminang seorang gadis. Gadis cantik anak seorang berada, namun jilbab belumlah menutup auratnya.
Menapaki alam nyata
Dunia luar adalah dunia yang nyata. Segala sisi manusia tergambar disana. Sisi religius dan kekafiran, santun dan sadis, kelicikan dan kepandiran, kebijaksanaan dan kebodohan. Semua bercampur menjadi satu. Begitu heterogen, begitu penuh warna. ltulah sesungguhnya dunia yang harus dihadapi segenap manusia.
Selepas kampus, itulah dunia yang harus ditapaki selama berpuluh tahun kehidupan. Dunia keras dan kejam. Rekan-rekan seperjuangan sulit ditemukan. Jangan banyak berharap akan dukungan barisan gagah para mujahid dakwah. Bahkan mungkin, dalam suatu lingkungan kerja hanya ditentukan satu orang saja yang beragama Islam.
Dalam menghadapi kondisi sedemikian maka immunitas diri menjadi suatu kebutuhan mutlak. Tanpanya, seretan gelombang arus materi yang jauh dari nilai ilahiyah akan meruntuhkan segala fitrah insaniyah manusia. Immunitas ini tidak ditumbuhkan dengan sendirinya. Namun merupakan hasil dari proses perjalanan ruhani. Karena immunitas merupakan buah dari iman dan kesabaran. Dan keduanya harus dibangun sedini mungkin. Berangkat dari sini maka kebutuhan akan tarbiyah dzatiyah (pembinaan mandiri) mutlak dilakukan. Bila selama ini menjaga ruhiyah dengan mudah dilakukan karena komunitas Islami di kampus kuat membentengi. Namun diluar sana, komunitas-komunitas Islami ini sulit ditemukan. Maka apa lagi yang bisa diandalkan untuk menyelamatkan diri dari badai materialisme kecuali keteguhan diri?
Sekali lagi, tarbiyah dzatiyyah menjadi keniscayaan untuk dibangun setiap insan yang nengharapkan keselamatan. Bukan jamannya lagi aktivis dakwah menjadi pribadi manja. Hatinya hanya hidup saat dirinya berada dalam habitat Islaminya. Bila sesaat saja keluar dari lingkungan Islami, datanglah malapetaka bagi keimanannya.
Bukankah seharusnya setiap aktivis dakwah layaknya ikan di lautan? Dirinya tetap tawar walaupun hidup di air asin. Hal ini bisa terjadi bila ikan itu hidup. Selama hidup, bertahun lamanya dagingnya tetap tawar. Tapi saat ikan itu mati, satu jam saja dalam seember air garam, maka ia akan menjadi ikan asin.
Begitulah keimanan dalam hati. Bila hati itu hidup, dimana saja ja berada maka keimanannya akan tetap terjaga. Bukan keimanan komunal, hanya hidup di habitatnya yang kondusif saja.
Lalu bagaimana menjaga agar hati itu tetap hidup?
Menjaga diri dari arus badai jahiliyyah dalam kehidupan nyata?
Beberapa kiat berikut insya Allah dapat menjadi jawabannya:
- Menjalankan Amal Sunnah.
Amalan sunnah seringan apapun, namun bila rutin dilakukan akan menjaga keimanan. Dengannya, ridho Allah akan mengalir. Dengannya, per kehidupan Rasulullah serasa dekat. Dengannya, akan senantiasa mendekarkan diri pada interaksi Ilahiyyah.
Amalan sunnah bisa dalam bentuk apa saja. Dan membaca matsurat selepas shubuh. Atau membaca beberapa lembar al-Qur’an di kala istirahat siang. Atau berusaha selalu shalat berjamaah di mushola kantor. Hingga qiyamullail setidaknya satu kali sepekan.
- Tidak Berlebihan dalam Hal Mubah
Hal mubah memang bukanlah suatu amalan yang berdosa. Ambil contoh seperti makan, minum, bercanda atau mendengarkan musik Islami. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan maka akan membawa kepada pelalaian terhadap kewajiban yang lebih penting. Atau terjerumus ke dalam suatu gaya hidup yang melalaikan.
- Rajin Mengikuti Halaqah Ruhiyyah
Halaqah ruhiyah adalah habitat asli keimanan. Di dalamnya iman dalam hati akan mendapati makanannya yang terbaik. Majelis-majelis yang dipenuhi ayat-ayat Allah akan mampu mendongkrak keimanan, separah apapun ia terkapar, insya Allah.
Maka sesibuk apapun, jangan sekali-kali meninggalkan halaqah. Karena selemah apapun kondisi halaqah, akan lebih haik dibanding lingkungan apapun di luar sana. Laksana baterai, halaqah akan men-charge hati dan semangat berIslam. Dan masing-masing anggota halaqah dapat bersama mencari solusi dari qadharya (permasalahan) hidupnya.
- Berusaha Membuat Suasana Islam di Lingkungan Kerja
Baiklah, mungkin memang hati hanya dapat hidup dalam habitat yang kondusif saja. Jika demikian, maka buatlah habitat-habitat kondusif itu, dimanapun kita berada. Karena hidupnya hati dan iman merupakan kebutuhan asasi yang tidak tergantikan oleh apapun.
Dan bukankah pernah ada sebuah janji terbersit dalam nurani:
Nahnu duat qabla kulli syayin. Kami adalah da’i sebelum menjadi apa saja. Maka disinilah saatnya janji itu menemukan tuntutannya!
- Menahan Diri dari Dosa Kecil, Apalagi Besar
Dosa, apapun bentuknya, layaknya dipandang sebagai gunung besar yang menimpa punggung. Bukan sebagai lalat yang dapat ditepis begitu saja. Karena apapun dosa laksana pasir bila dibiarkan lama-kelamaan akan menjadi gunung.
Dan para sahahat Rasulullah yang mulia selalu memandang berat setiap dosanya. Bahkan Umar bin Khattab ra. Membiarkan dirinya pingsan saat teringat akan dosanya di masa lalu.
- Menikah dengan Pasangan Yang Kuat Keimanannya
Terakhir, bila mampu maka menikahlah. Namun seperti pesan Rasulullah, menikahlah karena landasan agama. Bukan wajah, harta atau keturunan. Karena dengannya akan ditemui kebahagiaan hakiki dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Pasangan yang shalih/shalihah akan menjadi penyejuk setiap masalah di liar. Ia akan menjadi penyubur hati. Pengingat saat lalai dan penyemangat saat lesu. Dan RasululIah mendoakan pasangan Mukmin. Saat suami lesu dalam qiyamullail maka sang istri memercikkan air di wajah suaminya. Begitupun sebaliknya. Semoga barakah Allah selalu mengiringi setiap pasangan yang berlandas iman dan taqwa.
Sekali lagi, aktivis dakwah sejati bukankah pribadi manja. Seperti seorang Saad bin Waqqash yang rela berjalan ribuan mil. Meninggalkan saudara seiman dan komunitas Islam yang begitu kuat. Meninggalkan Haraman, dimana satu rakaat saja shalat di dalamnya, berlipat ribuan kali pahalanya. Meninggalkan gemilang harta ghimmah (rampasan perang) Persia pasca perang Qadisiyyah yang dipimpinnya. Pergi berdakwah ke negeri Cina. Menemui kaisar, mengIslamkan para panglima dan saudagar. Hingga dibangunkan untuknya masjid di pusat kerajaan di Kota Terlarang. Hingga beliau wafat dan dimakamkan disana.
Dimana Saad-Saad baru? Dimana jiwa-jiwa sekeras baja? Dimana hati-hati seteguh karang? ....