Rabu, November 26, 2008

Apotek, dan Farmasis

Apotek dan Bisnis Retail
Tidak dipungkiri lagi peran Apotek dalam regulasi obat memegang peranan penting. Tercapai tidaknya target depkes akan pemenuhan drugs demand bergantung pada hilir regulasi ini. Namun sebagai bagian dari institusi kesehatan ia belumlah dipandang sebagai institusi penting, center of healt, hanya dipandang bisnis ansich. Makanya entah anda sepakat dengan saya atau tidak Farmasis yang mengabdika diri di Apotek lebih low self-confident (red,minder) dengan sejawatnya di industri dan rumah sakit karena dalam kurun waktu yang sama sejawatnya sudah menduduki middle manajer atau up-manajer kalo prestasinya bagus selain dari income tentunya. dan kalo coba kita intip kedalam apotek memang begitu rupa adanya. Apotek sebagai bisnis retail tidaklah beda dengan toko kelontong dipasar. ditambah lagi kalo farmasisnya hanya datang sebulan 2x hanya untuk mengambil jatah gaji. Total income baik berupa profit margin maupun promotion fee semua hanya ditentukan dari seberapa besar kunjungan pelanggan ke Apotek. Semakin banyak orang datang semakin banyak pula anda untung, atau semakin banyak orang sakit semakin untung. Tidak peduli seberapa cerdas Farmasisnya. Margin yang hanya 20-30 % untuk mengangkat seluruh beban Apotek dari Beban listrik, telp, air, konsumsi, transport, privenya PSA, gaji AA, kurir dan tentu saja gaji farmasis tentunya bukanlah hal yang profitable. maka saya sarankan pada farmasis pengelola jangan pernah meminta jatah lebih kalo anda tidak mampu menaikkan penjualan. Kalopun ada kenaikan harga itupun tidak dapat menambah income karena basicnyapun akan naik.
lalu dimana letak profesi-onal?? (salah satu ciri profesi adalah adanya professional fee, kan)
---------
berlanjut...