Kamis, Februari 13, 2014

'Ber-Istighfar-lah pada Tuhanmu'

Al-Qurtubi meriwayatkan cerita Ibni Shabih. Pada suatau hari ada seorang lelaki mengadu kepada Hasan al-Basri tentang masa kemarau yang menimpanya. Hasan al-Basri lantas berkata kepadanya:
Beristighfarlah kepada Allah s.w.t.”

Selanjutnya seorang lelaki lain mengadu akan kemiskinan yang menimpanya. Hasan al-Basri lalu berkata kepadanya:
Beristighfarlah kepada Allah s.w.t.”

Ada pula lelaki lai berkata : “Doakanlah aku supaya Allah s.w.t memberiku anak.” Hasan al-Basri kemudian berkata kepadanya:
Beristighfarlah kepada Allah s.w.t.”

Datang lagi lelaki lain yang mengadu tentang kebunnya yang kekeringan. Hasan al-Basri pun berkata kepadanya:
Beristighfarlah kepada Allah s.w.t.”

Ar-Rabi lantas berkata kepadanya: “Beberapa orang lelaki mendatangimu mengadu pelbagai jenis perkara tetapi kamu menyuruh mereka semua untuk membaca istighfar!”

Hasan al-Basri menjawab: “ Aku sama sekali tidak mengatakan apapun dari diriku sendiri. Sesungguhnya Allah s.w.t berfirman:

Artinya:
“Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Surah Nuh: ayat 10-12)

Ada seorang lelaki berkata kepada Hasan al-Basri : “Apakah seseorang tidak akan berasa malu terhadap Tuhannya? Bukankah dia melakukan perbuatan dosa lalu memohon keampunan kemudian mengulangi perbuatan dosa lagi lalu memohon keampunan dan seterusnya?”

Hasan al-Basri lantas menjawab: “ Syaitan sangat berharap jika dia Berjaya menggoda kamu. Oleh kerana itu, janganlah kamu meninggalkan istighfar selama-lamanya.”

Senin, Februari 10, 2014

Dapaglifozin : OAD Baru release oleh FDA tahun 2013

Tahun 2013 lalu FDA merilis OAD baru setipe dg pioglitazone :

Link to the 2013 Novel New Drugs Summary (PDF - 3MB)

New Drugs at FDA: CDER’s New Molecular Entities and New Therapeutic Biological Products of 2014

Innovation drives progress. When it comes to innovation in the development of new drugs and therapeutic biological products, FDA’s Center for Drug Evaluation and Research (CDER) supports the pharmaceutical industry at every step of the process. With its understanding of the science used to create new products, testing and manufacturing procedures, and the diseases and conditions that new products are designed to treat, FDA provides scientific and regulatory advice needed to bring new therapies to market. The availability of new drugs and biological products often means new treatment options for patients and advances in health care for the American public. For this reason, CDER supports innovation and plays a key role in helping to advance new drug development.
Each year, CDER approves a wide range of new drugs and biological products. Some of these products are innovative new products that never before have been used in clinical practice. Others are the same as, or related to, previously approved products, and they will compete with those products in the marketplace.
Certain drugs are classified as new molecular entities (“NMEs”) for purposes of FDA review. Many of these products contain active moieties that have not been approved by FDA previously, either as a single ingredient drug or as part of a combination product; these products frequently provide important new therapies for patients. Some drugs are characterized as NMEs for administrative purposes, but nonetheless contain active moieties that are closely related to active moieties in products that have previously been approved by FDA. For example, CDER classifies biological products submitted in an application under section 351(a) of the Public Health Service Act as NMEs for purposes of FDA review, regardless of whether the Agency previously has approved a related active moiety in a different product. FDA’s classification of a drug as an “NME” for review purposes is distinct from FDA’s determination of whether a drug product is a “new chemical entity” or “NCE” within the meaning of the Federal Food, Drug, and Cosmetic Act.

The list below includes the
NMEs approved by CDER in calendar year 2014.

(The Drug Name link provides full product details, i.e., prescribing information, approval history, and reviews.)

No.
Drug Name
Active Ingredient
Date
What it’s used for
2.Hetlioztasimelteon1/31/2014To treat non-24- hour sleep-wake disorder (“non-24”) in totally blind individuals. Non-24 is a chronic circadian rhythm (body clock) disorder in the blind that causes problems with the timing of sleep.
Press Release
1.Farxigadapaglifozin1/8/2014To improve glycemic control, along with diet and exercise, in adults with type 2 diabetes.
Press Release

Minggu, Februari 09, 2014

Sabun Cair Multifungsi “Maks” Besutan Septian Suryo

Kisah Inspiratif bisnis, Sebenarnya idea sederhana tp brilian


sabun cair maks

Berawal dari penelitian, produk ciptaan Septian Suryo, yaitu sabun cair multifungsi bermerek Maks sudah diproduksi secara massal. Produk yang menjadi pemenang di kategori industri kreatif di ajang Wirausaha Muda Mandiri Tahun 2013 ini menghasilkan omset sekitar Rp 30 juta dalam satu bulan.
“Ini (Maks) adalah produk sabun cair multifungsi. Ini kami campur dari produk sabun cuci piring, sabun cuci tangan, cuci pakaian, hingga cuci mobil dan motor. Kami campur menjadi satu, menjadi sabun cair multifungsi mereknya Maks,” terang Septian dari Universitas Hasanuddin-Makassar, kepada SWA, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebagai informasi, produk Maks ini dipasarkan di bawah bendera CV Sefactor Pharma, yang berbasis di Makassar.

Bagaimana awal produk ini dibuat?
Modal awalnya sendiri hanya Rp 25 ribu. Tadinya, saya tidak berniat
memproduksi untuk dijual. Latar belakang saya itu farmasi, peneliti. Jadi, hanya untuk meriset, karena melihat banyak produk yang bahan aktifnya kurang ramah lingkungan. Penelitiannya sendiri sekitar enam bulan. Dari melakukan riset, terus menyusun formulanya, lalu setelah selesai didiskusikan dengan dosen. Dosen lantas mengarahkan ke pihak rektorat kampus.
Di rektorat itu, awalnya, saya pikir mau dibiayai untuk penelitian lebih lanjut, tapi ternyata diarahkan untuk diproduksi. Mereka bilang, “Sudah tidak usah diteliti lebih lanjut dulu, mendingan kamu jual saja dulu, diproduksi. (Untuk melihat) apakah ada orang yang mau beli atau tidak.” Ternyata, responsnya bagus dari pasar.
Tadi disebut ramah lingkungan, memang apa bahan baku produk ini?
Saya menggunakan turunan minyak kelapa. Bahan baku dari minyak
kopra, minyak kelapa, diolah oleh vendor, lalu itu digunakan sebagai
bahan dasar. Ada juga dari minyak goreng jelanta atau bekas pakai, itu untuk sabun padatnya.
Harga bahan bakunya itu mahal atau murah, ya relatif. Karena tergantung gradenya juga. Yang jelas, waktu pertama kali dibuat, sebagian besar saya menggunakan fasilitas laboratorium di kampus. Jadi, memang modal yang keluar murni sebesar itu (Rp 25.000). Keperluan yang lain dibantu kampus. Setelah itu, dapat bantuan lagi untuk memperbesar kapasitas.
Waktu awal, produk dijual dengan harga berapa?
Waktu itu, kapasitas produksi sebanyak satu ember cat sekitar 15 liter. Itu awal, di tahun 2012, produk dijual seharga Rp 6.000-an per liter. Kami itu hanya jual isi, atau bentuknya curah. Sekarang, produk dijual Rp 7.500 per liter.

Pada penjualan awal, seperti apa masukan dari konsumen?
Saya mendapat banyak masukan, karena setiap konsumen itu punya selera yang berbeda-beda. Ada yang beri masukan dari segi kemasan, aromanya, variasinya. Seperti aroma itu, ada pembeli yang menginginkan agar ditambah ketajaman aromanya. Karena pelanggan kami itu lebih ke restoran-restoran, di mana produk digunakan untuk mencuci piring. Selain itu, ke pabrik makanan dan minuman untuk mencuci mesin pabrik.
Lantas, bagaimana dengan harganya, apakah pasar menilai cukup terjangkau?
Kalau dibandingkan produk sabun dari luar Pulau Sulawesi, harganya lumayan kompetitif. Tapi, nantinya, kami juga akan ekspansi penjualan di luar Sulawesi. Dan menjadi pekerjaan rumah bagi kami, untuk bagaimana menekan dan mengefisienkan proses produksi.Harapannya, kami bisa menjual lebih banyak sehingga harga produk bisa ditekan. Margin produk ini tidak terlalu tinggi, makanya kami harus fokus ke kuantitas. Kalau omzet itu per bulannya sekitar Rp 30 juta.
Sekarang ini, berapa produksi per bulan?
Kami memproduksi sekitar lima ton dalam satu bulan. Dan, setelah mengidentifikasi pasar mulai dari masyarakat umum, pertokoan, hotel, kafe, rumah makan, rumah sakit, jasa cleaning service, tempat hiburan, kami pun menghitung cukup lima persen saja dari seluruh kebutuhan Kota Makassar, atau sekitar 14 ton per bulan. Kami sendiri produksi masih lima ton. Maksudnya, pangsa pasar produk ini masih luas, dan itu masih bisa kami kejar.
Permintaan sendiri terus naik. Tapi, ini juga tergantung dari strategi kami untuk memasarkan, mengingat produk dari luar juga ada. Ketika kami bisa menawarkan dengan strategi lebih baik, lebih mudah diterima, otomatis lebih cepat untuk mencapai targetnya.
Apa rencana di tahun ini?
Rencana kami, bulan Februari mendatang, kami akan meluncurkan kemasan ritel untuk masuk ke pasar modern. Karena, awalnya, kami hanya menjual isi untuk segmentasi pasar-pasar perusahaan, sekarang untuk konsumen langsung. (EVA)